Seorang caleg terkenal sekaligus pengusaha sukses jatuh sakit. Sudah 7 hari ia dirawat di ICU. Ketika orang-orang terlelap dalam tidur malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si caleg yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, jika dalam waktu 2x24 jam ada 40 orang berdo'a buat kesembuhanmu, maka kau akan sembuh. Sebaliknya jika dalam kurun waktu itu, jumlahnya belum terpenuhi, kau akan meninggal dunia!
'Kalau hanya mencari 40 orang, itu soal mudah ... pikir si caleg/pengusaha ini dengan PD-nya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Malam keduanya, tepat pukul 23:00, malaikat kembali mengunjunginya, dengan antusiasnya si caleg (pengusaha) bertanya, apakah besok pagi aku sudah sembuh ? pastilah banyak yang berdo'a buat aku, jumlah karyawanku tidak kurang dari 1000 orang... , belum lagi pengikutku di partai, jumlahnya puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang.
Dengan lembut si Malaikat berkata, wahai ‘Fulan’, aku sudah berkeliling kesana kemari mencari suara hati yang berdo'a buatmu... tapi sampai saat ini baru ada 3 orang, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya sulit sekali kalau dalam waktu dekat ini ada tambahan 37 orang yang berdo'a buat kesembuhanmu'.
Tanpa menunggu reaksi dari si caleg/pengusaha, lalu malaikat menunjukkan layar besar berupa TV, siapa 3 orang yang berdo'a buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri... di sebelahnya ada 2 orang anak kecil...putra putrinya yang berdo'a dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka'.
Kata Malaikat, aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu' Kembali terlihat dimana si istri sedang berdo'a jam 2:00 pagi menjelang subuh.
Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam karir politiknya, bahkan kalaupun dia memberikan sumbangan, kadang hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri. Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
Tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya. Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si caleg/pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa.
Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdo'a 37 orang ! Dengan setengah bergumam dia bertanya, apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku, pengikutku tidak ada yang berdo'a buatku ?
Jawab si Malaikat, ada beberapa yang berdo'a buatmu, tapi mereka tidak tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah.
Si caleg/pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,
wahai ’Fulan’, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu !!
Kau akan sembuh, karena ada 37 orang yang berdo'a buatmu tepat jam 24:00.
Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 37 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu. Bukankah itu Panti Asuhan? kata si pengusaha pelan.
Benar ’Fulan’, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu dibalik kedermawanan, kadang kamu mencari popularitas, menarik perhatian pemerintah dan para pendukung partai, NAMUN bulan lalu kamu sembunyi-sembunyi dan tulus menyantuni anak yatim.
Tadi pagi, salah seorang anak yatim panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang caleg/pengusaha terkenal sudah 7 hari di rawat ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menyantuni mereka dan akhirnya anak-anak yatim panti asuhan sepakat untuk shalat tahajud berjamaah lalu diakhiri dengan berdo'a buat kesembuhanmu.
Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, cobalah mendoakan kebaikan dengan tulus. Mungkin saja saat itu dia dalam keadaan butuh dukungan do'a.
Thursday, February 26, 2009
Sunday, February 22, 2009
Kupu-kupu
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.
"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh kesamping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?" Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak
naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. " Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri." Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
Teman, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah
memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh kesamping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?" Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak
naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah. " Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri." Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
***
Teman, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah
memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Friday, February 20, 2009
Bersyukur
Saya Bersyukur Untuk Istri
Yang memberiku makanan yang sama dengan malam kemarin
Karena Istriku DIRUMAH malam ini,
dan TIDAK bersama orang lain ... :)
BERSYUKUR UNTUK SUAMI
Yang duduk bermalasan di Sofa
Sambil baca koran males-malesan,
Karena doi bersama aku dirumah
dan Tidak keluyuran ... apalagi ke Bar malem ini.
Bersyukur untuk anakku
Yang selalu PROTES dirumah
Karena artinya .... dia sedang dirumah
dan TIDAK sedang keluyuran di jalanan
BERSYUKUR untuk Pajak yang saya bayar
karena artinya ...
Saya bekerja ... atau Punya penghasilan ...
BERSYUKUR untuk rumah yang berantakan.. . .
Karena artinya saya masih punya kesempatan
melayani orang-orang yang mengasihi saya ...
BERSYUKUR untuk baju yang mulai kesempitan
karena artinya ...
Saya bisa lebih dari cukup untuk makan ...
BERSYUKUR pada Bayangan yang mengikutiku
Karena artinya ...
Aku tidak disilaukan oleh Matahari ...
BERSYUKUR untuk Kebun yang harus dirapikan dan perkara yang harus
dibetulkan dirumah .. !!
Karena artinya ... saya punya Rumah !!!
BERSYUKUR akan berita orang yang lagi DEMO .
karena artinya
Kiat masih PUNYA kebebasan untuk berbicara
BERSYUKUR untuk dapat tempat parkir yang paling jauh ..
Karena artinya saya masih bisa berjalan kaki .
dan diberkati dengan kendaraan yang saya bisa bawa ..
BERSYUKUR untuk Cucian ...
Karena artinya .... saya punya baju yang bisa dipakai ..
BERSYUKUR karena kepenatan dan kelelahan kerja setiap hari ..
karena artinya ... SAYA MAMPU bekerja keras setiap hari ... J
BERSYUKUR mendengar Alarm yang mengganggu di pagi hari ..
Karena artinya ... SAYA MASIH HIDUP ...
AKHIRNYA ... BERSYUKUR dengan banyaknya E-mail yang masuk .
KARENA ARTINYA SAYA MASIH PUNYA ANDA YANG MEMPERHATIKAN SAYA..!!
Yang memberiku makanan yang sama dengan malam kemarin
Karena Istriku DIRUMAH malam ini,
dan TIDAK bersama orang lain ... :)
BERSYUKUR UNTUK SUAMI
Yang duduk bermalasan di Sofa
Sambil baca koran males-malesan,
Karena doi bersama aku dirumah
dan Tidak keluyuran ... apalagi ke Bar malem ini.
Bersyukur untuk anakku
Yang selalu PROTES dirumah
Karena artinya .... dia sedang dirumah
dan TIDAK sedang keluyuran di jalanan
BERSYUKUR untuk Pajak yang saya bayar
karena artinya ...
Saya bekerja ... atau Punya penghasilan ...
BERSYUKUR untuk rumah yang berantakan.. . .
Karena artinya saya masih punya kesempatan
melayani orang-orang yang mengasihi saya ...
BERSYUKUR untuk baju yang mulai kesempitan
karena artinya ...
Saya bisa lebih dari cukup untuk makan ...
BERSYUKUR pada Bayangan yang mengikutiku
Karena artinya ...
Aku tidak disilaukan oleh Matahari ...
BERSYUKUR untuk Kebun yang harus dirapikan dan perkara yang harus
dibetulkan dirumah .. !!
Karena artinya ... saya punya Rumah !!!
BERSYUKUR akan berita orang yang lagi DEMO .
karena artinya
Kiat masih PUNYA kebebasan untuk berbicara
BERSYUKUR untuk dapat tempat parkir yang paling jauh ..
Karena artinya saya masih bisa berjalan kaki .
dan diberkati dengan kendaraan yang saya bisa bawa ..
BERSYUKUR untuk Cucian ...
Karena artinya .... saya punya baju yang bisa dipakai ..
BERSYUKUR karena kepenatan dan kelelahan kerja setiap hari ..
karena artinya ... SAYA MAMPU bekerja keras setiap hari ... J
BERSYUKUR mendengar Alarm yang mengganggu di pagi hari ..
Karena artinya ... SAYA MASIH HIDUP ...
AKHIRNYA ... BERSYUKUR dengan banyaknya E-mail yang masuk .
KARENA ARTINYA SAYA MASIH PUNYA ANDA YANG MEMPERHATIKAN SAYA..!!
Thursday, February 19, 2009
Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja
Ada salah satu prilaku kita yang sering terjadi adalah "Ngurusi yang bukan urusannya", dampaknya adalah hidup tidak tentram. Hidup tidak tentram, akan berdampak pada kesehatan diri maupun kesehatan tatanan masarakat.
Ada empat kelompok kehidupan manusia;
(1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta;
(2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta;
(3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan
(4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.
Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah "hidup tentram dengan tidak berkelimpahan
harta", tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.
Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman
bisnis dan teknologi, dengan judul "Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja", maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.
Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya.
Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.
Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro.
Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.
"Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?" tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".
Bukan cari uang.
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.
Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.
Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, "Mas, sampean apa
percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.
Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".
Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun."Mas, saya bukan jualan pisang goreng
lho", aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik". "Wow..." pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?
"Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya" terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".
Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.
Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih
mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.
Khawatir
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas"
"Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah" aku Wak Diro. "Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu".
Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?", dengan ringan Wak Diro menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?". Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, "Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan 'ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"
Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya
harta, namun lebih terletak pada "Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak". Itu saja pilihannya..
Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan!!!
Bagaimana Pendapat anda ???
Ada empat kelompok kehidupan manusia;
(1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta;
(2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta;
(3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan
(4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.
Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah "hidup tentram dengan tidak berkelimpahan
harta", tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.
Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman
bisnis dan teknologi, dengan judul "Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja", maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.
Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya.
Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.
Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro.
Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.
"Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?" tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".
Bukan cari uang.
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.
Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.
Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, "Mas, sampean apa
percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.
Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".
Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun."Mas, saya bukan jualan pisang goreng
lho", aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik". "Wow..." pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?
"Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya" terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".
Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.
Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih
mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.
Khawatir
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas"
"Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah" aku Wak Diro. "Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu".
Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?", dengan ringan Wak Diro menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?". Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, "Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan 'ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"
Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya
harta, namun lebih terletak pada "Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak". Itu saja pilihannya..
Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan!!!
Bagaimana Pendapat anda ???
Sunday, November 30, 2008
Nikmat Dunia Hanya Sekejap
Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk
mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba
terdengarlah
bunyi auman suara harimau... Auuuummmm... .!!!!! Seekor harimau yang
sedang lapar dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya dan tiba-tiba
sudah berada dihadapan pemuda . Pemuda tadi karena takut, diapun
berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak
begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun
mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat
berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,...rupanya doanya
dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas
dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak
akan mengejarnya ikut masuk kesumur tersebut.
Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya ada tali
menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin
saja bisa membuat kakinya patah karena dalamnya sumur tersebut. Tapi
ternyata tali itu pendek dan takkan sanggup membantu dia sampai
kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayut ditengah-tengah sumur,
ketika tengah bergelayut dia menengadahkan mukanya keatas ternyata
harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, dan ketika dia menunduk
kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata ada 2
ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.
Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya
siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba
dari pinggir sumur yang ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih
..ciiit...ciiit. .. .ciit...yang naik meniti tali pemuda tadi dan
mulai menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya
dari lobang satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal
sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk
bergelantungan. Waduh ...jika tali ini putus, ...habislah riwayatku
dimakan buaya..!!! cemas dia berpikir,... jika aku naik keatas ..sudah
pasti harimau menerkamku,. .jika menunggu disini...lama- lama tali ini
akan putus dan buaya dibawah siap menyongsongku. .. saat itulah dia
mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk
dibawa kesarang mereka,..dia mendongakkan wajahnya keatas..dan
tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke
mulut pemuda tadi. Spontan pemuda tadi berkata...Subhanall ah
..Alangkah manisnya madu ini,..baru sekali ini aku merasakan madu
semanis dan selezat ini...!!! Dia lupa akan ancaman buaya dan harimau
tadi.
Tahukah kamu, inti dari cerita diatas...??? Pemuda tadi adalah kita
semua, harimau yang mengejar adalah maut kita, ajal memang selalu
mengejar kita. Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah
malaikat munkar dan nakir yang menunggu kita di alam kubur kita
nantinya . Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur
kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur kita, jika talinya
pendek maka panjanglah
umur kita Tikus putih dan tikus hitam adalah dunia kita siang dan
juga malam yang senantiasa mengikis umur kita. Diibaratkan di cerita
tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda Madu setetes adalah nikmat
dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setetes tadi masuk kemulut
pemuda,..sampai dia lupa akan ancaman harimau dan buaya,..begitulah
kita, ketika kita menerima nikmat sedikit, kita lupa kepada Allah.
Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah 1 menit untuk
mengingat Allah
mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba
terdengarlah
bunyi auman suara harimau... Auuuummmm... .!!!!! Seekor harimau yang
sedang lapar dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya dan tiba-tiba
sudah berada dihadapan pemuda . Pemuda tadi karena takut, diapun
berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak
begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun
mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat
berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,...rupanya doanya
dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas
dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak
akan mengejarnya ikut masuk kesumur tersebut.
Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya ada tali
menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin
saja bisa membuat kakinya patah karena dalamnya sumur tersebut. Tapi
ternyata tali itu pendek dan takkan sanggup membantu dia sampai
kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayut ditengah-tengah sumur,
ketika tengah bergelayut dia menengadahkan mukanya keatas ternyata
harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, dan ketika dia menunduk
kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata ada 2
ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.
Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya
siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba
dari pinggir sumur yang ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih
..ciiit...ciiit. .. .ciit...yang naik meniti tali pemuda tadi dan
mulai menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya
dari lobang satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal
sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk
bergelantungan. Waduh ...jika tali ini putus, ...habislah riwayatku
dimakan buaya..!!! cemas dia berpikir,... jika aku naik keatas ..sudah
pasti harimau menerkamku,. .jika menunggu disini...lama- lama tali ini
akan putus dan buaya dibawah siap menyongsongku. .. saat itulah dia
mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk
dibawa kesarang mereka,..dia mendongakkan wajahnya keatas..dan
tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke
mulut pemuda tadi. Spontan pemuda tadi berkata...Subhanall ah
..Alangkah manisnya madu ini,..baru sekali ini aku merasakan madu
semanis dan selezat ini...!!! Dia lupa akan ancaman buaya dan harimau
tadi.
Tahukah kamu, inti dari cerita diatas...??? Pemuda tadi adalah kita
semua, harimau yang mengejar adalah maut kita, ajal memang selalu
mengejar kita. Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah
malaikat munkar dan nakir yang menunggu kita di alam kubur kita
nantinya . Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur
kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur kita, jika talinya
pendek maka panjanglah
umur kita Tikus putih dan tikus hitam adalah dunia kita siang dan
juga malam yang senantiasa mengikis umur kita. Diibaratkan di cerita
tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda Madu setetes adalah nikmat
dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setetes tadi masuk kemulut
pemuda,..sampai dia lupa akan ancaman harimau dan buaya,..begitulah
kita, ketika kita menerima nikmat sedikit, kita lupa kepada Allah.
Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah 1 menit untuk
mengingat Allah
Sunday, November 9, 2008
Kura-kura Lawan Kancil Versi Baru
Suatu hari Kura Kura dan Kancil berdebat tentang siapa yang lebih cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah mereka bertanding.
Sang Kancil melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura Kura dia berhenti sejenak dibawah pohon untuk beristirahat sebelum memulai lagi perlombaannya.
Sang Kancil terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur.
Dan Kura Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara.
Sang Kancil terbangun dan mendapatkan dirinya kalah didalam perlombaan tersebut.
Maksud dari cerita ini adalah :
Mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan
Ini adalah cerita yang biasa kita dengar sejak masa kecil
Baru baru ini seseorang bercerita versi baru yang lebih menarik.
Rupanya ceritanya bersambung ……….
Sang Kancil sangat kecewa dengan kekalahannya lalu melakukan analisis penyebabnya.
Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati-hati dan terlena. Kalau saja dia bisa lebih waspada maka tidaklah mungkin Kura Kura bisa
mengalahkannya.
Lalu ditantangnya lagi Kura Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura Kura.
Dan kali ini, sang Kancil menang mutlak karena dia berlari tanpa henti
Maksud dari cerita ini adalah :
Cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat dan konsisten.
Kalau ada dua orang diperusahaan, yang satu lambat, pakai metoda dan handal sedangkan yang satu lagi cekatan dan handal, maka yang cepat dan handal akan maju lebih cepat
Lambat asal Konsisten itu bagus akan tetapi lebih bagus lagi kalau Cepat dan Konsisten
Tetapi ceritanya tidak hanya sampai disini.
Kali ini sang Kura Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kancil pada jalur seperti yang lalu
Setelah berpikir keras, kali ini Kura Kura menantang sang Kancil untuk berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda
Sang kancil setuju.
Mereka mulai berpacu dan sang Kancil berlari dengan cepat tanpa berhenti sampai akhirnya terpaksa berhenti ditepi sungai, karena harus menyeberang
Rupanya garis finish nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi diseberang sungai .
Sang Kancil bingung tidak tahu harus berbuat apa….. dan tak lama kemudian muncul Kura Kura menyusul dan dengan santainya menyeberang sampai kegaris finish dan memenangkan pertandingan
Maksud cerita ini adalah:
Pertama, temukan kekuatan utama anda kemudian carilah tempat bertanding yang sesuai dengan kekuatan utama anda
Di Perusahaan, kalau anda pandai berbicara, carilah kesempatan untuk memberikan presentasi sehingga pimpinan anda bisa melihat kemampuan anda
Kalau Kekuatanmu adalah menganalisis, carilah peran yang membutuhkan kemampuan analisis. Bekerja pada Kekuatanmu bukan hanya menunjukkan kehebatanmu akan tetapi juga menciptakan kesempatan untuk maju dan berkembang
Kalau Kekuatanmu adalah mengorganisir, carilah peran untuk mengorganisir sesuatu kegiatan penting agar perusahaan tahu bahwa anda mungkin pantas menjadi manager
Kalau Kekuatanmu adalah waspada dan teliti carilah peran yang membutuhkan kewaspadaan dan ketelitian seperti peran yang terkait dengan keselamatan, hukum atau keuangan
Ceritanya belum selesai lho…
Kali ini sang Kancil dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama. Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik
Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi, cuma kali ini mereka berlari dalam satu team
Mereka mulai berlari …… mula mula sang Kancil menggendong Kura-Kura sampai ketepi sungai, kemudian disini Kura Kura yang menggendong Kancil untuk menyeberangi sungai
Diseberang satunya Kancil mulai menggendong Kura Kura lagi sampai kegaris finish. Sampai digaris finish keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba sebelumnya
Maksud cerita ini adalah:
Bagus menjadi orang yang brilian dan mempunyai kekuatan utama; akan tetapi tanpa bisa bekerjasama didalam suatu team dan menjalin masing-masing kekuatan utama, hasilnya tidak akan maksimal karena selalu ada situasi dimana anda berkinerja kurang sedangkan rekan lainnya lebih baik.
Kerjasama adalah masalah kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi inti yang sesuai dengan situasi mengambil alih kepemimpinan.
Ada lagi yang dapat dipelajari disini ?
Catat bahwa baik Kancil maupun Kura Kura tidak pernah menyerah setelah mengalami kegagalan.
Bahkan Sang Kancil bekerja lebih keras setelah kegagalannya
Sedangkan Kura kura mengubah Strategi nya karena dia sudah berusaha sekuat tenaga.
Dalam hidup, kalau kita menghadapi kegagalan, terkadang bisa diatasi dengan bekerja lebih keras dan menambahkan usaha. Kadang akan lebih cocok untuk mengubah Strategi dan melakukan sesuatu yang berbeda.
Dan terkadang lebih cocok melakukan keduanya.
Keduanya juga belajar sesuatu pelajaran yang sangat penting.
Kalau kita berhenti berkompetisi dengan saingan kita lalu mulai berkompetisi dengan situasi, kita akan bisa mendapatkan kinerja yang jauh lebih baik
Ringkasnya, cerita ini mengajarkan banyak hal pada kita.
Pelajaran yang penting adalah:
-Bahwa cepat dan konsisten akan selalu lebih baik daripada lambat dan konsisten
-Ambilah peran yang sesuai dengan KEKUATAN utama anda
-Kumpulkan kekuatan dan bekerja didalam team akan selalu mengalahkan jagoan individu
-Jangan pernah menyerah kalau gagal
-Dan akhirnya, bersainglah melawan situasi, jangan melawan pesaing.
Sang Kancil melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura Kura dia berhenti sejenak dibawah pohon untuk beristirahat sebelum memulai lagi perlombaannya.
Sang Kancil terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur.
Dan Kura Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara.
Sang Kancil terbangun dan mendapatkan dirinya kalah didalam perlombaan tersebut.
Maksud dari cerita ini adalah :
Mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan
Ini adalah cerita yang biasa kita dengar sejak masa kecil
Baru baru ini seseorang bercerita versi baru yang lebih menarik.
Rupanya ceritanya bersambung ……….
Sang Kancil sangat kecewa dengan kekalahannya lalu melakukan analisis penyebabnya.
Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati-hati dan terlena. Kalau saja dia bisa lebih waspada maka tidaklah mungkin Kura Kura bisa
mengalahkannya.
Lalu ditantangnya lagi Kura Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura Kura.
Dan kali ini, sang Kancil menang mutlak karena dia berlari tanpa henti
Maksud dari cerita ini adalah :
Cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat dan konsisten.
Kalau ada dua orang diperusahaan, yang satu lambat, pakai metoda dan handal sedangkan yang satu lagi cekatan dan handal, maka yang cepat dan handal akan maju lebih cepat
Lambat asal Konsisten itu bagus akan tetapi lebih bagus lagi kalau Cepat dan Konsisten
Tetapi ceritanya tidak hanya sampai disini.
Kali ini sang Kura Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kancil pada jalur seperti yang lalu
Setelah berpikir keras, kali ini Kura Kura menantang sang Kancil untuk berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda
Sang kancil setuju.
Mereka mulai berpacu dan sang Kancil berlari dengan cepat tanpa berhenti sampai akhirnya terpaksa berhenti ditepi sungai, karena harus menyeberang
Rupanya garis finish nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi diseberang sungai .
Sang Kancil bingung tidak tahu harus berbuat apa….. dan tak lama kemudian muncul Kura Kura menyusul dan dengan santainya menyeberang sampai kegaris finish dan memenangkan pertandingan
Maksud cerita ini adalah:
Pertama, temukan kekuatan utama anda kemudian carilah tempat bertanding yang sesuai dengan kekuatan utama anda
Di Perusahaan, kalau anda pandai berbicara, carilah kesempatan untuk memberikan presentasi sehingga pimpinan anda bisa melihat kemampuan anda
Kalau Kekuatanmu adalah menganalisis, carilah peran yang membutuhkan kemampuan analisis. Bekerja pada Kekuatanmu bukan hanya menunjukkan kehebatanmu akan tetapi juga menciptakan kesempatan untuk maju dan berkembang
Kalau Kekuatanmu adalah mengorganisir, carilah peran untuk mengorganisir sesuatu kegiatan penting agar perusahaan tahu bahwa anda mungkin pantas menjadi manager
Kalau Kekuatanmu adalah waspada dan teliti carilah peran yang membutuhkan kewaspadaan dan ketelitian seperti peran yang terkait dengan keselamatan, hukum atau keuangan
Ceritanya belum selesai lho…
Kali ini sang Kancil dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama. Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik
Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi, cuma kali ini mereka berlari dalam satu team
Mereka mulai berlari …… mula mula sang Kancil menggendong Kura-Kura sampai ketepi sungai, kemudian disini Kura Kura yang menggendong Kancil untuk menyeberangi sungai
Diseberang satunya Kancil mulai menggendong Kura Kura lagi sampai kegaris finish. Sampai digaris finish keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba sebelumnya
Maksud cerita ini adalah:
Bagus menjadi orang yang brilian dan mempunyai kekuatan utama; akan tetapi tanpa bisa bekerjasama didalam suatu team dan menjalin masing-masing kekuatan utama, hasilnya tidak akan maksimal karena selalu ada situasi dimana anda berkinerja kurang sedangkan rekan lainnya lebih baik.
Kerjasama adalah masalah kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi inti yang sesuai dengan situasi mengambil alih kepemimpinan.
Ada lagi yang dapat dipelajari disini ?
Catat bahwa baik Kancil maupun Kura Kura tidak pernah menyerah setelah mengalami kegagalan.
Bahkan Sang Kancil bekerja lebih keras setelah kegagalannya
Sedangkan Kura kura mengubah Strategi nya karena dia sudah berusaha sekuat tenaga.
Dalam hidup, kalau kita menghadapi kegagalan, terkadang bisa diatasi dengan bekerja lebih keras dan menambahkan usaha. Kadang akan lebih cocok untuk mengubah Strategi dan melakukan sesuatu yang berbeda.
Dan terkadang lebih cocok melakukan keduanya.
Keduanya juga belajar sesuatu pelajaran yang sangat penting.
Kalau kita berhenti berkompetisi dengan saingan kita lalu mulai berkompetisi dengan situasi, kita akan bisa mendapatkan kinerja yang jauh lebih baik
Ringkasnya, cerita ini mengajarkan banyak hal pada kita.
Pelajaran yang penting adalah:
-Bahwa cepat dan konsisten akan selalu lebih baik daripada lambat dan konsisten
-Ambilah peran yang sesuai dengan KEKUATAN utama anda
-Kumpulkan kekuatan dan bekerja didalam team akan selalu mengalahkan jagoan individu
-Jangan pernah menyerah kalau gagal
-Dan akhirnya, bersainglah melawan situasi, jangan melawan pesaing.
Wednesday, October 15, 2008
Perbuatan akan bercahaya bila berbahan bakar keikhlasan.
SEORANG kawan senang betul salat sunnah kalau ia berada di kota lain. Memang, Rasulullah mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh, begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan salat sunnah dua rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.
Suatu hari dia pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa, ia mencari masjid atau musala. Layaknya orang yang mau salat, kawan ini mencari toilet dan tempat wudu. Tapi, langkah dia tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja bernama Waluyo, kawan SMP yang sangat pintar.
Untuk sementara dia tertegun. "Tidak salahkah penglihatanku? " tanyanya pada diri sendiri. Waluyo yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudu itu diamati beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala.
Waluyo tengah mengepel.
"Assalamualaikum. ..," sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di depan mata benar-benar Waluyo, kawan dia. Waluyo juga mengenali diri dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.
Masih di koridor tempat wudu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, "Kenapa Waluyo hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?"
Yang ditanya tersenyum. "Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini?
Kan, bagus. Dengan saya menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang salat jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya," ujar Waluyo.
"Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Waluyo kan dulu pintar. Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking. Kok, kayaknya gimana, gitu....?"
Waluyo kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi pinggir tempat wudu.
"Gimana kalau Waluyo ikutan sama saya?"
"Maksudnya?"
"Ya, kerja sama saya.
Waluyo bisa saya gaji lebih besar dari penghasilan sebagai merbot ini.
Ngomong-ngomong jadi merbot digaji nggak?"
"Nggak."
"Wuah, apalagi nggak.
Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan terakhir?"
"Sarjana elektro," katanya.
"Waduh, tambah nggak pantaslah. Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja.
Maaf ya, Mas. Cuma rasanya, gimana gitu saya melihatnya.. .."
"Ya, sudah," jawab Waluyo, "Salat saja dulu. Nanti kita ngobrol lagi. sambil ngopi, biar saya buatkan sekalian."
Kawan ini pun mengambil air wudu, sambil tetap mikirin Waluyo.
Kala dia mau mengambil posisi salat, seorang anak muda yang tampaknya juga merbot masjid bertanya : "Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Waluyo, ya?"
"Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu...."
"Pak Haji, Pak Haji Waluyo itu yang bangun ini masjid.
Dia orang kaya disini...." kata anak muda tersebut dengan datar.
"Orangnya baik, Pak.Rendah hati. Sederhana. Padahal amalnya buanyak...."
Tidak berhenti di sini, si anak muda itu pun bercerita bahwa Haji Waluyo adalah pengusaha alat-alat listrik dan toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga salat berjamaah dan mencintai masjid.
Makanya, kala sukses, dia membangun masjid kecil ini.
Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang salat di masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji Waluyo, temui saja di masjid dia.
Masya Allah.
Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah merendahkan "jabatan" merbot masjid. Apalagi, ternyata Waluyo inilah yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai "merbot" tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai pembersih masjid, pasti Bakal diluruskan, "Maaf, saya lho yang membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan masjid."
Masya Allah, Waluyo adalah sosok lain. Dia justru menyembunyikan amalnya. Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas. Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara tentang siapa sebenarnya Waluyo. Keikhlasannya membuat Waluyo bercahaya.
Bahkan makin bercahaya.
"... Dan sembahlah
Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.. ."
(Q.S. al-A'raf:29)
Suatu hari dia pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa, ia mencari masjid atau musala. Layaknya orang yang mau salat, kawan ini mencari toilet dan tempat wudu. Tapi, langkah dia tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja bernama Waluyo, kawan SMP yang sangat pintar.
Untuk sementara dia tertegun. "Tidak salahkah penglihatanku? " tanyanya pada diri sendiri. Waluyo yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudu itu diamati beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala.
Waluyo tengah mengepel.
"Assalamualaikum. ..," sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di depan mata benar-benar Waluyo, kawan dia. Waluyo juga mengenali diri dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.
Masih di koridor tempat wudu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, "Kenapa Waluyo hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?"
Yang ditanya tersenyum. "Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini?
Kan, bagus. Dengan saya menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang salat jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya," ujar Waluyo.
"Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Waluyo kan dulu pintar. Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking. Kok, kayaknya gimana, gitu....?"
Waluyo kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi pinggir tempat wudu.
"Gimana kalau Waluyo ikutan sama saya?"
"Maksudnya?"
"Ya, kerja sama saya.
Waluyo bisa saya gaji lebih besar dari penghasilan sebagai merbot ini.
Ngomong-ngomong jadi merbot digaji nggak?"
"Nggak."
"Wuah, apalagi nggak.
Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan terakhir?"
"Sarjana elektro," katanya.
"Waduh, tambah nggak pantaslah. Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja.
Maaf ya, Mas. Cuma rasanya, gimana gitu saya melihatnya.. .."
"Ya, sudah," jawab Waluyo, "Salat saja dulu. Nanti kita ngobrol lagi. sambil ngopi, biar saya buatkan sekalian."
Kawan ini pun mengambil air wudu, sambil tetap mikirin Waluyo.
Kala dia mau mengambil posisi salat, seorang anak muda yang tampaknya juga merbot masjid bertanya : "Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Waluyo, ya?"
"Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu...."
"Pak Haji, Pak Haji Waluyo itu yang bangun ini masjid.
Dia orang kaya disini...." kata anak muda tersebut dengan datar.
"Orangnya baik, Pak.Rendah hati. Sederhana. Padahal amalnya buanyak...."
Tidak berhenti di sini, si anak muda itu pun bercerita bahwa Haji Waluyo adalah pengusaha alat-alat listrik dan toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga salat berjamaah dan mencintai masjid.
Makanya, kala sukses, dia membangun masjid kecil ini.
Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang salat di masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji Waluyo, temui saja di masjid dia.
Masya Allah.
Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah merendahkan "jabatan" merbot masjid. Apalagi, ternyata Waluyo inilah yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai "merbot" tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai pembersih masjid, pasti Bakal diluruskan, "Maaf, saya lho yang membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan masjid."
Masya Allah, Waluyo adalah sosok lain. Dia justru menyembunyikan amalnya. Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas. Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara tentang siapa sebenarnya Waluyo. Keikhlasannya membuat Waluyo bercahaya.
Bahkan makin bercahaya.
"... Dan sembahlah
Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.. ."
(Q.S. al-A'raf:29)
Subscribe to:
Posts (Atom)