Wednesday, October 19, 2011

KUNCI-KUNCI KEHIDUPAN


Kunci haji adalah ihram,

Kunci segala kebaikan adalah kejujuran,

Kunci surga adalah tauhid,

Kunci kemenangan dan kegemilangan adalah sabar,

Kunci penambahan nikmat adalah syukur,

Kunci kewalian adalah cinta dan dzikir,

Kunci keberuntungan adalah takwa,

Kunci petunjuk adalah cinta dan takut kepada Allah SWT,

Kunci permintaan adalah doa,

Kunci cinta akhirat adalah zuhud di dunia,

Kunci iman adalah merenungkan apa saja yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk direnungkan,

Kunci masuk kepada Allah SWT adalah penyerahan hati, kesehatannya kepada-Nya, ikhlas karena-Nya dalam cinta & benci, mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejahatan,

Kunci kehidupan hati adalah merenungkan Al-Qur'an dan merendahkan diri, berdoa pada waktu sahur dan meninggalkan dosa ,

Kunci mendapatkan rahmat dan ihsan adalah beribadah kepada Al-Khaliq dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya,

Kunci rizqi adalah bekerja dengan disertai istighfar dan takwa,

Kunci kemuliaan adalah taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya,

Kunci persiapan menuju akhirat adalah memperpendek angan-angan,

Kunci segala kebaikan adalah cinta Allah SWT dan negeri akhirat,

Dan kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan

(Kitab Hadil Arwaah Ila Biladil Afraah, karya Syaikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Qalam, Beirut-Libanon)

Tuesday, October 11, 2011

Kutipan Petuah Dari 4 Imam Madzhab



"Ya Allah, orang yang dadanya sesak karena kami, sungguh hati kami lapang untuk mereka." -Abu Hanifah-

"Aku menganggap maksiat sebagai kehinaan; kujauhi ia agar diriku berkemuliaan; lalu jadilah ia kebiasaan." -Abu Hanifah-

"Cara mudah menjatuhkan wibawamu adalah dengan memuji dirimu sendiri." -Malik ibn Anas-

"Renungkanlah; jika ucapan kita ini termasuk perbuatan, kita pasti akan menyedikitkan kata-kata." -Malik ibn Anas-

"Belumlah menjadi saudaramu; dia yang masih membuatmu harus berpura-pura." -Asy Syafi'i-

"Siapa yang jika kau senangkan memujimu dengan yang tak kau miliki; kala marahnya juga akan menjelekkanmu dengan mengada-ada." -Asy Syafi'i-

Siapa mendengar dengan telinga, kan menjadi tukang cerita. Siapa menyimak dengan hati, kan menjadi Faqih yang ahli. -Asy Syafi'i-

Menasehati dengan kata-kata, bak muadzin yang merdu suaranya. Menasehati dengan teladan mulia, kan jadi Imam dalam segala. -Asy Syafi'i-

"Lunakkanlah hatimu dengan hanya memasukkan yang halal ke dalam perutmu." -Ahmad ibn Hanbal-

"Jika bumi mengecil jadi seremah roti; lalu seorang muslim menyuapkan itu pada saudaranya; ini bukanlah pemborosan." -Ahmad ibn Hanbal-

Source: milis iqro

Friday, September 16, 2011

Kemuliaan Orang-orang Miskin



Bersemangat tuk jadi kaya, kuat, & bermanfaat bagi seluas-luas sesama adalah mulia. Tapi haruskah kita mencela kemiskinan & keadaan papa?

Andai pada kemiskinan sama sekali tiada kebaikan; akankah Nabi bersabda, "Aku diperlihatkan surga; kebanyakan penduduknya miskin adanya"?

Nabi juga pernah menyebut betapa seorang miskin, kusut, compang-camping & tak laku; lebih baik dari sepenuh bumi si tampan berkekayaan.

Adalah 'Abdurrahman ibn 'Auf; si kaya yang penampilannya tak beda dengan budaknya, suatu hari menangis ketika dihidangkan roti lembut.

Tersedu dia berkata, "Mush'ab ibn 'Umair lebih baik dari kami. Dia tak pernah menikmati makanan seperti ini. Kala syahid di Uhud, ..." tiada kafan baginya selain selimut usang; kalau ditutupkan ke kepala terbuka kakinya, jika diselubungkan ke kaki tersingkap kepala.."

Tangisan 'Abdurrahman adalah sebab terkenang ungkapan Nabi saat melihat Mush'ab di Madinah; si tampan yang sejak hijrahnya menjadi papa.. kulitnya kering, mengelupas bagai ular berganti sisik, baju bertambal, tubuhnya kurus kurang gizi. Nabi menitikkan airmata & bersabda..

"Bagaimana kalian, jika dunia dibukakan, lalu masing-masing kalian berlimpah kekayaan & kemuliaan?", beliau pandangi sahabat-sahabatnya..

Mereka yang saat itu nyaris semua faqir adanya menjawab; "Jika demikian keadaan kami pastilah baik ya RasulaLlah!". Nabi menggeleng.. dengan pelupuk tergenang, "Tidak! Demi Allah! Demia Allah, kalian hari ini lebih baik daripada kalian pada hari itu!"

Maka tangis 'Abdurrahman adalah tangis iri; kepada mereka yang dikaruniai kematian di zaman ketika kesempitan menjadi urat persaudaraan.

Seperti tangis 'Umar ketika perbendaharaan Persia yang berlimpah bertimbun di Madinah. "Mengapa kau menangis hai Amirul Mukminin... padahal Islam dijayakan lewat kepemimpinanmu, & kaum muslimin dimakmurkan melalui dirimu?" 'Umar makin tersedu. "Jika ini kebaikan.. kata 'Umar sambil menunjuk timbunan harta itu; "Mengapa tidak terjadi di zaman RasuluLlah & Abu Bakr? Celaka! Mengapa di zamanku?"

Hari-hari ini kita mendengar bahwa menjadu kaya itu mulia; sekaligus bahwa miskin itu tercela. Tapi jika faktanya Nabi & sahabat utama.. lebih khawatir kan kekayaan daripada kemiskinan; menyebut lebih baiknya keadaan miskin daripada kaya; sudikah kita tuk memeriksa lagi?

Bahwa kaya & miskin, lapang & sempit, bahagia & duka; bukanlah ukuran mulia & tercelanya manusia. Kemuliaan ada pada sikap menjalaninya.

Bahwa Quran memuji Sulaiman yang berlimpah harta & sekaligus mengutuk Qarun si kaya. Lalu ia muliakan Ayyub yang sakit, berduka, & papa.

Allah mencela orang yang kala diberi kurnia mengatakan "Tuhanku memuliakanku" & saat disempitkan rizqi mengeluh "Tuhanku menghinakanku."

QS Al Fajr ayat 15-16 ini mencela rusaknya pola fikir ketika kebanyakan insan -yang beragama- menjadikan kekayaan sebagai ukuran mulia.

Dan Nabipun berdoa, "Wa laa taj'alid dunya akbara hammina, wa la mablagha 'ilmina.. Jangan jadikan dunia cita terbesar & tujuan ilmuku."

Saya bersaksi, benarlah Nabi tercinta; "Ni'mal malish shalih, li rajulish shalih! Sebaik-baik harta yang baik, di tangan lelaki baik."

Maka kekayaan itu kebaikan yang pujian padanya bersyarat; jika penggenggamnya mulia & bahkan memandang sebagai beban sebelum ditunaikan.

Tetapi memang demikianlah segala 'alat beramal kita di dunia; kekayaan, ilmu, kekuasaan, cinta; semua kemuliaannya tersandar pada nilai.

Pun demikian kemiskinan; ia menjadi tak layak dicela sebab Allah Maha Kuasa menjadikannya jalan kemuliaan bagi begitu banyak hamba.

Tentu intinya bukan soal miskin; melainkan sikap SABAR yang ada di dalamnya. Sebagaimana bukan kaya-nya; melainkan ungkapan syukurnya.

Salim sangat bersyukur dengan kehadiran para Gurunda yang membangkitkan semangat kita tuk jadi kaya; al. Gurunda @ipphoright & lainnya.

Sungguh tuk kebangkitannya, ummat hari ini memerlukan pilar-pilar kebaikan yang ditopang oleh berlimpahnya harta nan tak merasuki hati.

Ummat ini memerlukan sosok-sosok laiknya Abu Bakr, 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf. Tapi tak kurang-kurangnya, Akhfiya'ul Atqiya'..

Mereka yang bertaqwa & tersembunyi, mereka yang miskin harta tapi doanya mengguncang 'Arsyi; hajat ummat atas mereka besar sekali.

Mu'adz ibn Jabal menangis di hadapan 'Umar menjelang ajal; sebab dia, karena ilmu & kedermawanannya telah terkecualikan dari Akhfiya'..

Kita hari-hari ini lalu merenungkan sabda Nabi; "Bukan syirik yang aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku, melainkan jika dunia... dibentangkan pada kalian, lalu kalian saling berlomba memperolehnya hingga sebagian memukul sebagian yang lain!" (Muttafaq 'Alaih)

Maka demikianlah dunia dikhawatirkan Sang Nabi pada para sahabat yang beriman. Lalu bagaimana kita yang tertatih mengeja makna berislam?

Lalu izinkan Salim membawakan makna kekhawatiran itu; di tengah gegap gempita semangat kita tuk jadi kaya. Moga ia jadi rem nan berguna.

Moga Allah teguhkan kita beriman & beramal di segala keadaan; berbagi tanpa menanti penuhnya pundi; sedekah tak menunggu kaya berlimpah.

Bersabar tanpa harus terkena musibah; bersyukur sebab nikmatNya tak henti mengucur. Dua kendaraan yang sama-sama mengantar ke surga.

Mendidik diri tuk memiliki sikap utama (sabar & syukur) yang mengabadi, tetap lebih harus didahulukan daripada menjadi kaya yang fana.

Sebab bakda upaya yang semestinya; atau pilihan jua; menjadi miskin tak menghalangi Salman, Abu Hurairah, Bilal, & Ibn Mas'ud tuk mulia.

Demikian Shalih(in+at), maafkan Salim yang faqir ilmu & terlalu berani bicara tentang harta yang Salim-pun bukan ahlinya. Mohon maafkan.

Doakan istiqamah menasehati diri; Jalan Kaki Tidak Keki, Naik Mercy Tidak Grogi, Naik Angkot Tidak Sewot, Naik Garuda Tidak Jumawa.. :)

source: milis

Tuesday, September 13, 2011

Hidup Sehat Dengan Al-Quran



Kisah dari seorang ustadz...

Masa itu, saya dalam kondisi pengobatan. Trigliserid 3 kali lipat dari batas normal membuat saya sering meradang sebab vertigo. Dunia seperti jungkir balik dan saya pun berobat dengan seorang professor. Hasilnya, ada bbrp obat yg perlu dikonsumsi dan diet bbrp jenis makanan terlarang sesaat. Sy dianjurkan utk bnyk konsumsi buah & sayuran. Sy pun 'terpaksa' nurut demi kesembuhan.

Msh teringat jelas saat suatu pagi sy diminta berceramah. Di sbh keluarga berada di daerah Radio Dalam, Jakarta. Usai acara sy dipersilakan menikmati makanan. Sy pun menyambut ajakan tuan rumah. Sblm tiba di meja makan prasmanan, sy persilakan seorg yg 'paling sepuh' di sana utk mengambil jamuan. Maka 'kakek' itu mengambil makanan dan sy berdiri kedua dlm giliran.

Sy menyaksikan betapa sang kakek mengambil semua makanan yg disajikan. Tdk ada yg terlewat, sementara sy hny mengambil sayur & buah.

Usai mengambil makanan, sy sengaja duduk di sisi beliau. "Masya Allah....!" Sy berdecak kagum melihat piring beliau 'munjung' dgn makanan. Sementara sy yg jauh lbh muda hny seperempat piring sj terisi sayur & buah. Terus terang sy merasa iri kpdnya.

Saat duduk di sampingnya, sy berujar, "Belum ada pantangan makan ya pak?!" Beliau tersenyum dan berkata, "Coba ustadz terka berapa umur saya...?!"
Sy menjawab dgn senyum seraya menerka, "Enam puluh tiga... Enam puluh lima... Enam puluh tujuh..." Anehnya, stp kali sy coba menerka umur, beliau selalu menggeleng dan tersenyum sambil berkata bahwa terkaan sy salah.

Tiga kali sy menerka selalu salah. Demi Allah, paras tubuhnya memberi isyarat kpd sy bhw umur beliau blm lbh dr kisaran 60-an. Hingga sy mulai menampakkan mimik bingung di wajah.

Rupanya si kakek menikmati permainan tebak umur itu dgn saya. Dalam kebingungan yg sy alami, beliau tetap tersenyum dan mulai menjelaskan dgn ujarnya, "Coba ustadz lihat di rambut kepala saya... Adakah uban di sana...? Kacamata yg sy pakai ini bukan minus atau plus. Mata sy msh awas & terang, Alhamdulillah. Ini sy gunakan hny utk menangkal sinar terik matahari.... Umur saya Alhamdulillah baru 83 tahun!!!"

Sy terperanjat mendengar ujar beliau. Gak masuk akal bagi sy umur beliau 83 thn tanpa uban di kepala. Semntara sy yg berusia 30-an sdh bnyk sekali uban bertabur. Apalg sy menggunakan kacamata minus tebal. Merasa tertarik dgn fakta ini sy kejar beliau dgn tanya menyusul, "Apa resepnya bisa hidup sehat, pak?!"

Beliau tersenyum dan membalas tanya sy dgn sbh pertanyaan, "Ustadz, suka baca Al Quran?!" Sy merasa aneh dgn pertanyaan ini. Dlm batin sy berkata, "saya ini ustadz... Masa ditanya kayak begituan?!"
Saya jawab beliau, "Ya, sy suka baca Al Quran!"

"Brp kali dlm sehari...?" Kejar beliau. "Minimal sekali dlm sehari. Rutin ba'da subuh sy membacanya" ujar saya.
"Oooo...., cuma sekali. Jadi lbh banyak makan dong daripada baca Al Quran?!" Lanjutnya.

Terus terang sy merasa terhina dgn ucapan beliau. Tp refleks sy lgsg bertanya, "Apa hubungan baca Al Quran dgn hidup sehat & awet muda?!"

Beliau jawab pertanyaan sy dgn bijak kali ini sambil menjelaskan, "Ustadz...., sampai kini guru saya msh hidup. Beliau tinggal di Sumatera Barat. Umur beliau saat ini 97 tahun, dan Alhamdulillah kemanapun ia masih menyetir mobil sendiri. Beliau sehat di usianya yg senja... Resep ini sy dapat dari beliau. Resep yg amat mudah dan simple; yaitu MEMPERBANYAK BACA AL-QURAN DARI KANAN KE KIRI bukan sebaliknya...."

Subhanallah... Sy bergumam. Kagum dan syukur sy mendapat sbh ilmu berharga ttg kesehatan dari seorg kakek di siang itu. Saat itu sy baru menyadari sbh hikmah mengapa Allah pilih bahasa arab utk Al Quran. Rupanya ayat 2 dalam surat Yusuf yg sering sy baca, baru kini sy mengerti salah satu hikmahnya.

Selamat hidup sehat dgn Al Quran, sobat!

Source: milis

Thursday, August 18, 2011

Pengemis Yahudi Buta & Nabi Muhammad SAW



Telah kita ketahui bersama bahwa nabi Muhammad memiliki sifat yg sangat mulia. Dan beliau adalah pribadi yang sangat suka menolong orang lain, nah pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan bagaimana kemuliaan nabi muhammad ketika ia berhadapan dengan seorang pengemis yahudi buta yg selalu menghinanya.

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi ia lalui dengan selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?",tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Nah inilah kisah itu sobat, dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah, bahwa setiap perbuatan yg kurang menyenangkan yg kita dapatkan dari orang lain bukan menjadi alasan bagi kita untuk memusuhi orang tersebut. Allah SWT berfirman, secara singkatnya begini, berdakwalah kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yg baik dan lawanlah mereka yg tidak menyukaimu dengan cara yg baik pula.

Source: milis

Thursday, August 11, 2011

Behitung Pahala Tilawah Di Bulan Mega Bonus



Di bulan Ramadhan ini kita diminta oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa dengan ihtisaban seperti dalam sabdanya, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuhi keimanan dan ihtisaban, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ihtisaban maksudnya penuh perhitungan. Berhitung seperti seorang pedagang mengkalkulasi berapa keuntungan yang ingin didapat dari dagangannya. Kenapa Rasulullah SAW meminta kita berhitung dalam berpuasa di bulan Ramadhan? Karena Ramadhan bulan mega bonus!

Rasulullah SAW menjelaskan, “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.”

Menurut penelitian Imam an-Nasafi yang dicatatkan dalam kitab Majmu Al-Ulum Wa Mathli’u An-Nujum dan dikutip Imam Ibn Arabi dalam mukaddimah Al-Futuhuat Al-Ilahiyah, Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat, dan 1.027.000 huruf. Jadi, jika berhasil mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an sekali saja, kita akan dapat pahala sebesar 1.027.000 x 700 = 718.900.000.

Rasulullah SAW memberi batas bawah bagi seorang muslim dalam hal tilawah adalah minimal khatam Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Tapi, muslim yang cerdas tentu tidak merasa cukup Cuma khatam sekali di bulan Ramadhan. Kalau cuma sekali ya rugi karena tidak beda dengan bulan-bulan yang lain. Jadi, harus bisa khatam lebih dari dua kali.
Terlebih lagi ketika Lailatul Qadar. Jangan sampai tidak tilawah di malam itu. Allah SWT menyatakan bahwa nilai Lailatul Qadar lebih baik daripada 1.000 bulan atau setara dengan 354.000 kali malam biasa. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”

Berapa pahala yang bisa kita peroleh jika membaca 1 juz Al-Quran pada saat Lailatul Qadar? Jika kita asumsikan jumlah huruf dalam setiap juz sama, maka angkanya kira-kira 1.027.000 : 30 = 34.233 huruf. Jumlah potensi pahala yang bisa kita dapat di malam itu adalah 34.233 x 700 x 354.000 = 8.482.937.400.000. Subhanallah, angkanya triliunan!

Surat Al-Qadr turun karena suatu saat Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat tentang seseorang dari Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Laki-laki itu selalu beribadah pada malam hari hingga pagi dan di siang harinya berjihad memerangi musuh.

Para sahabat kagum sekaligus iri kepada lelaki itu. Allah memberi kesempatan kepada lelaki itu selama 1.000 bulan untuk konsisten beribadah dan berjihad. Sementara, para sahabat banyak yang masuk Islam pada umur tidak muda lagi. Sementara potensi usia hidup umat Nabi Muhammad SAW hanya 60 tahun. Jadi, para sahabat merasa tidak mungkin menyamai ibadah yang dilakukan oleh lelaki dari Bani Israil yang diceritakan Rasulullah SAW.

Allah Maha Adil. Allah SWT memberikan Lailatul Qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jika kita beribadah saat Lailatul Qadar, Allah SWT menggandakan nilainya menjadi 354.000 kali lipat. Tilawah satu juz dapat pahala 8.482.937.400.000. Kalau 3 juz, 25.448.812.200.000! Maka merugilah orang yang tidak memperbanyak tilawah saat Lailatul Qadar.

Disarikan dari: dakwatuna.com

Tuesday, August 9, 2011

Hindari Api Neraka Meski dengan Separuh Kurma


RASULULLAH SAW bersabda, “Setiap orang pasti akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Saat itu tidak ada penerjemah antara keduanya. Dia melihat ke arah kanannya dan tidak menjumpai apa pun kecuali amal perbuatan yang selama ini diperbuat. Lalu dia melihat ke arah kirinya dan dia juga tidak menjumpai ap apun kecuali amal yang telah dia perbuat. Selanjutnya dia melihat ke arah depan dan dia tidak melihat apa pun kecuali api di hadapan wajahnya. Maka jauhilah api neraka walaupun hanya dengan separuh kurma.”

Lihatlah keagungan berinfak. Separuh buah kurma dapat menyelamatkan setiap muslim dari api neraka. Sampai-sampai seandainya tidak memiliki apa pun kecuali hanya sebuah kurma, kita harus membelahnya menjadi dua. Dimakan setengahnya dan setengahnya lagi diinfakkan kepada fakir miskin.

Perhatikanlah baik-baik, separuh buah kurma ternyata dapat menghindari dari kobaran api neraka. Benar, ada kesempatan yang dapat menyelamatkan dari api Jahannam yang kita semua berusaha untuk menghindarinya.

Jika demikian, apalagi yang ditunggu? Marilah kita berinfak! Sedekahkanlah barang yang paling disukai. Allah SWT berfirman: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah Mengetahui." (QS Ali Imran: 92).

Oleh karena itu, jangan biarkan satu hari pun berlalu kecuali telah berinfak. Ketahuilah, di sana ada segolongan umat manusia yang ketika telah berlalu satu hari dari mereka, dan mereka belum sempat berinfak, maka mereka pun merasa sedih.

Akan tetapi, di sisi lain kita juga mendapati segolongan manusia lainnya yang membiarkan waktu mereka berlalu begitu saja, satu bulan, dua bulan, bahkan hingga satu atau dua tahun. Mereka sedikitpun tidak pernah menyedekahkan harta mereka. Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (QS At Taubah: 34).

Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sedekah dapat memendam kemarahan Tuhanmu dan menghindarkan dari kematian yang jelek." (HR At Tirmidzi).

Oleh karena itu, jika dalam satu hari kita berbuat dosa, bersedekahlah, Jika suatu saat menyimpang dari ketaatan, bersedekahlah!

Source: okezone